Kecelakaan itu…

“Kapan ayah pulang bunda, aku kangen sama ayah” sahut anakku.
“Sabar ya nak, insya Allah ayah pulang besok. Anak bunda kok cengeng” jawabku sambil menyapu air mata yang jatuh
dipipi anakku.
“Tapi Raihan kangen banget sama ayah bunda.”
“Iya bunda tau kalau Raihan kangen kangen sama ayah. Sekarang Raihan bobok ya. Jangan nangis terus, ntar matanya
bengkak. Besok khan hari pertama Raihan sekolah. Masa baru masuk sekolah jagoan bunda matanya bengkak..?”
“Bunda, ayah sayang gak sama kita,”
“Yah pasti sayanglah nak, kalo gak sayang kenapa ayah rela kerja di luar kota demi Raihan dan bunda.”
“Tapi ayah pasti pulang khan bunda,” sambung anakku dengan mukanya yang sendu
“Pasti pulang sayang. Khan tadi Raihan dengar sendiri suara ayah kalo insya Allah besok ayah pulang ke rumah.
Sekarang Raihan bobo ya, jangan mikir yang macem-macem” jawabku sambil mencium kening anakku.

**********
Tiba-tiba telepon genggamku berbunyi. Aku melihat nomer yang menghubungiku. No yang bukan milik suamiku. Sambil menyelimuti anakku, aku angkat telephon itu.
“Assalamualaikum Mbak Nabila, saya Ridwan teman satu kantor mas Farhan”.
“Waalaikum salam, iya mas saya istrinya mas Farhan,” jawabku.
“Begini mbak, saya ingin memberitahu kalau Mas Farhan kecelakaan saat mau berangkat ke Solo. Sekarang dia dirawat
di Rumah Sakit Harapan Bunda Semarang”.
“Subhanallah mas, suami saya kecelakaan. Terus gimana kondisi suami saya sekarang apa baik-baik aja mas,” tanyaku
“Alhamdulillah suami mbak selamat dari musibah itu. Hanya saja kata dokter suami mbak untuk beberapa waktu
harus istirahat total, karena kakinya untuk sementara waktu belum bisa jalan. Akibat kecelakaan itu membuat kakinya
retak, tapi itu tidak akan berlangsung lama. Karena dengan pengobatan yang rutin, Insya Allah suami mbak bisa jalan
lagi,” jawab teman suamiku.
“Baiklah mas, besok pagi saya akan pergi ke Semarang menemui suami saya. Saya mohon mas tetap bersama suami saya, pastikan kalo dia selalu dalam perawatan dokter. Karena saya takut sekali terjadi apa-apa dengan dia. Saya dan anak saya sangat menyayangi dia dan berharap dia kembali berkumpul dengan kami lagi,” sahutku sambil menahan air mata yang jatuh.
“Baiklah mbak, malam ini saya akan menjaga suami mbak sampai mbak datang kesini. Tapi pastikan kalo mbak jangan
terlalu khawatir ya. Itu akan membahayakan mbak selama dalam perjalanan menuju Semarang.
“Terima kasih ya mas atas bantuan dan nasehatnya.”

**********
Keesokan harinya, setelah sholat subuh saya membangunkan putra sulung saya.
“Bunda, ada apa dengan mata bunda kok sembab. Bunda habis nangis ya..?” tanya Raihan penuh kebingungan
“Sayang sekarang Raihan bangun, mandi, dan sholat jangan lupa doain ayah ya nak,” pintaku pada anakku
“Ada apa dengan ayah bunda…? Apa ayah udah pulang bunda”.
“Sayang, ayah belum pulang. Sekarang Raihan cepat mandi dan sholat. Habis itu kita mau ke tempat ayah nak.”
“Ketempat ayah bunda…? Bukannya hari ini ayah akan pulang bunda. Jangan bunda ntar kalo kita pergi, ternyata ayah
kesini. Kasihan ayah bunda pulang ternyata gak ada kita di rumah,” sahut anakku.
“Raihan, tadi ayah telephon bunda. Kata ayah, Raihan dan bunda harus ke Semarang. Ayah gak bisa pulang ke Solo. Ayah
sakit nak
“Ayah sakit apa bunda…?’ tanya anakku.
“Ayah kecelakaan mobil sayang, tapi alhamdulillah ayah gak papa. Ayah disuruh istirahat total. Jadi nanti kalo
Raihan ketemu sama ayah, Raihan harus janji sama bunda jangan paksa Raihan main kuda-kudaan ya”.
“Iya bunda, Raihan janji gak minta main kuda-kudaan sama ayah, tapi ayah kok bisa kecelakaan bunda,” tanya anakku
dengan polosnya.

*************
Alhamdulillah taxi sudah memasuki halaman rumah sakit Harapan Bunda, aku dan Raihan akan bertemu dengan suamiku.
Aku tidak sabar ingin bertemu suamiku. Aku  yakin sekali suamiku sangat membutuhkan aku. Memasuki kamar Anggrek 5A tempat dimana suamiku dirawat. Dengan sangat hati-hati aku membuka kamar itu. Aku melihat suamiku tertidur dengan lelapnya. Aku menatapnya dengan perasaan sedih. Lalu aku melihat anakku tidur lelap dipelukanku. Dengan sangat hati-hati aku meletakkan anakku di sofa tepat di sebelah ranjang suamiku. Aku sangat sedih sekali jika Raihan bangun dan melihat kaki dan tangan ayahnya diperban. Dia pasti akan sedih sekali dan akan banyak pertanyaan yang akan dia.Dia pasti akan bingung melihat kaki dan tangan ayahnya di perban. Tapi aku sangat bersyukur sampai saat ini,  aku masih melihat senyum suamiku dan merasakan kasih sayangnya yang begitu besar dan tulus terhadapku dan Raihan. Aku sangat mencintaimu Mas Farhan. Begitu besar sayangmu pada kami. Aku berjanji pada diriku, aku akan menyayangi dan mencintaimu serta merawatmu sampai dirimu sembuh.

Published in: on June 26, 2009 at 6:26 am  Comments (1)  
Tags:

The URI to TrackBack this entry is: https://mirasyam.wordpress.com/2009/06/26/kecelakaan-itu/trackback/

RSS feed for comments on this post.

One CommentLeave a comment

  1. ooh…cerita bagus banget ! thanks ya


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: