Kenali “akad” sebelum mengajukan kredit

Prinsip kredit di bank konvensional adalah pinjam meminjam uang dengan tambahan bunga pada saat pengembalian. Sementara di bank syariah dikenal dengan istilah “akad”. Disini akan saya jabarkan sedikit tentang prinsip kredit dalam perbankan syariah.

Secara umum, akad pembiayaan syariah terbagi menjadi tiga. Yakni, akad jual beli (mubarahah), bagi hasil, dan sewa (ijarah). Akad jual beli biasanya digunakan untuk pembiayaan investasi seperti membeli mesin, alat transportasi, dan sejenisnya.

Adapun akad bagi hasil umumnya digunakan untuk pembiayaan modal kerja.  Akad pembiayaan antarbank dan nasabah dilakukan sesuai ketentuan hukum positif di Indonesia.

Akad jual beli terbagi dalam tiga jenis: Murabahah, Salam, dan Istisna. Murabahah adalah akad jual beli antara bank dan nasabahnya. Bank membeli barang (yang diperlukan nasabah) dan menjualnya kepada nasabah sebesar harga pokok ditambah dengan keuntungan yang disepakati. Diaplikasikan untuk investasi. Misalnya, seorang pengusaha mengajukan permohonan kredit untuk pembelian alat berat Rp 100 juta. Bank kemudian akan membelikan mesin tersebut dan menjual kembali mesin tersebut seharga Rp 110 juta. Artinya keuntungan bank sebesar Rp 10 juta atau 10%.

Salam sebenarmya juga merupakan akad jual beli. Akad jual beli barang pesanan (muslam fiih) antara pembeli (muslam) dengan penjual (muslam ilaih). Spesifikasi (jenis, ukuran, jumlah mutu) dan harga barang disepakati diawal akad dan pembayaran dilakukan di muka secara penuh. Apabila bank bertindak sebagai pembeli, kemudian memesan kepada pihak lain untuk menyediakan barangà salam paralel. Diaplikasikan untuk produksi agribisnis atau industri sejenis lainnya. Dalam metode Salam ini, barang yang akan diperjualbelikan itu belum ada. Karena itu, barang diserahkan belakangan, sedangkan pembayarannya dilakukan secara tunai. Di sini bank bertindak sebagai pembeli, sementara nasabah sebagai penjual. Sekilas akad ini mirip dengan ijon. Bedanya, kuantitas, kualitas, harga dan waktu penyerahan barang sudah pasti.

Istisna, akad jual beli (mashnu’) antar pemesan (mustashni’) dengan penerima pesanan (shani). Spesifikasi (jenis, macam, ukuran, mutu dan jumlah) dan harga barang pesanan disepakati di awal akad dengan pembayaran dilakukan sesuai kesepakatan di awal akad dengan pembayaran dilakukan sesuai kesepakatan (dimuka, cicilan, dan dibelakang). Apabila bank bertindak sebagai shani kemudian menunjuk pihak lain untuk membuat barang à Istishna Paralel. Sistem ini diaplikasikan buat industri manufaktur, industri kecil menengah dan konstruksi. Misalnya, Dalam pembuatan rumah bisa dilakukan pembayaran di awal, di akhir dalam bentuk pesanan setelah barang sudah ada.

Akad bagi hasil bisa digolongkan menjadi mudarabah dan musyarakah.  Akad mudharabah (bank sebagai shahibul maal) yaitu Akad antara pemilik modal dan pengelola modal untuk memperoleh keuntungan à dibagi sesuai nisbah yang disepakati di awal akad. Prinsip pembagian hasil usaha à revenue sharing atau profit sharing. Sementara akad musyarakah, akad untuk usaha patungan untuk membiayai usaha yang halal dan produktif. Akad ini bisa diaplikasikan untuk pembiayaan proyek. Kedua akad ini prinsipnya merupakan kerjasama usaha antara bank dan nasabahnya. Bedanya, dalam mudarabah, modal usaha 100% disediakan oleh bank. Sementara itu, dalam musyarakah, sebagian modal disediakan oleh bank, dan sebagian lagi disediakan oleh nasabah. Besar porsi masing-masing tergantung kesepakatan; bisa 80:20, 70:30, 60:40, dst. Besarnya porsi modal akan menjadi dasar bagi hasil ketika usaha itu mulai berjalan.

Bila pembiyaan dari bank menggunakan akad musyarakah, bank memiliki kewenangan untuk mencampuri keputusan manajemen perusahaan. Dan sebaliknya dalam mudarabah. Dua perbedaan ini akan terlihat efeknya saat investasi merugi. Berdasarkan akad musyarakah, kerugian akan ditanggung sesuai porsi modal masing-masing. Sementara, bila dalam akad mudarabah, bank yang akan menanggungseluruh kerugian

Published in: on May 11, 2009 at 7:30 am  Leave a Comment  
Tags: , , ,

The URI to TrackBack this entry is: https://mirasyam.wordpress.com/2009/05/11/kenali-akad-sebelum-mengajukan-kredit/trackback/

RSS feed for comments on this post.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: