Sekilas Tentang Perbankan Syariah (2)

Krisis keuangan di Amerika sudah meluas efeknya ke seluruh dunia menjadi krisis keuangan global. Negara-negara Asia termasuk Indonesia pun merasakan dampak dari krisis keuangan global.

Apa saja dampak yang dialami oleh rakyat Indonesia? Yang jelas harga-harga saham, harga reksadana, harga unit link di Asuransi anjlok. Para investor yang mengharapkan keuntungan dari kenaikan harga saham, reksadana dan unit link mengalami banyak kerugian. Di industri Perbankan, juga terkena dampaknya baik Perbankan Syariah maupun Konvensional. Namun secara umum dampak krisis pada perbankan syariah lebih ringan dibandingkan perbankan konvensional.

Ada beberapa factor yang menjelaskan hal ini menurut Adiwarman Karim (Direktur Utama Karim Business Consulting).

  1. Perbankan syariah tidak mempunyai eksposur terhadap produk-produk derivatif. Padahal produk inilah yang paling rentan terhadap krisis. Beberapa bank besar terpaksa membukukan rugi yang signifikan akibat terlibat dalam transaksi derivatif. Dual currency deposit dan callable fordward adalah contoh produk derivative yang merugikan industri keuangan.
  2. Perbankan syariah mempunyai eksposure valas yang relatif kecil, dari sisi dana yang dihimpun maupun dari sisi dana yang disalurkan. Terbatasnya instrument hedging dan ketatnya persyaratan hedging pada bank syariah menjadikan salah satu penyebabnya.
  3. Perbankan syariah mempunyai eksposur pembiayaan di sektor UKM yang relatif besar dibandingkan dengan bank konvensional. Terbatasnya modal bank syariah menyebabkan terbatasnya batas maksimum pemberian kredit (BMPK). Inilah yang menyebabkan bank syariah lebih memilih pembiayaan sektor UKM dan menghindai pembiayaan perusahaan korporasi besar.

Menurut Arsitektur Perbankan Indonesia (API)  mengharuskan bank yang ada di Indonesia memiliki modal menimal sebesar Rp 100 miliar mulai akhir thn 2008. Hal ini tidak memberikan banyak pilihan bagi pemilik bank kecil kecuali menambah modal atau menjualnya. Maka, terjadilah gelombang akuisisi besar terhadap bank-bank kecil yang tidak mampu menambah modal. Ini terjadi bersamaan dengan diberlakukannya kebijakan single presence ( pemilik yang sama tidak boleh memiliki dua bank sekaligus kecuali salah satunya bank syariah). Maka, terjadilah gelombang akuisisi besar terhadap bank-bank kecil yang tidak mampu menambah modal.

Berdirinya bank umun syariah dengan cara konversi dari bank konvensional memang bukan hal baru. Bank Syariah Mandiri merupakan hasil konversi Bank Susila Bhakti. Bank Mega Syariah hasil konversi Bank Tugu. Akhir tahun 2008, ada tambahan dua bank umum syariah yang berdiri yaitu Bank Syariah BRI (konversi Bank Jasa Arta) dan Bank Syariah Bukopin (konversi dari Bank Persyarikatan). Tahun ini beberapa bank umum syariah baru yang akan berdiri. Antara lain Bank Syariah Panin yang merupakan konversi dari Bank Harfa ; Bank Syariah BCA yang merupakan konversi dari Bank UIB dan Bank Syariah Victoria yang merupakan konversi dari bank Swaguna.

Ada beberapa informasi yang sangat mengembirakan buat sektor perbankan syariah khususnya di Indonesia karena Indonesia merupakan negara yang dianggap paling memadai dan dapat diterima dalam industri perbankan syariah sehingga berpeluang besar menjadi pusat perbankan syariah dunia. Peluang tersebut didukung oleh adanya peraturan dan infrastruktur yang dapat mendukung pertumbuhan perbankan Indonesia sebagai pusat syariah global.

Peraturan perbankan syariah di Timur Tengah dinilai sangat stright, garis keras. Sebaliknya, di Malaysia, sistem perbankan sangat longgar. Indonesia berada di antaranya,” kata Direktur Direktorat Perbankan Syariah Bank Indonesia Ramzi A Zuhdi.”

Ramzi menjelaskan, Indonesia dinilai memiliki peraturan perundangan mengenai perbankan syariah. Indonesia telah mengeluarkan Undang-undang Sukuk dan aturan perpajakan. Dalam waktu dekat guna mendukung perbankan syariah nasional. Hal tersebut dianggap sangat berdampak positif dalam menjadikan Indonesia sebagai pusat industri syariah internasional. Terlebih pangsa pasar syariah di Indonesia lebih besar dibanding pagsa pasar syariah di Malaysia dan Pakistan. Karena bisa diterima lebih luas di sini.

Positifnya pertumbuhan sektor syariah di Indonesia juga dapat dilihat dari banyaknya sumber daya manusia yang bekerja di sektor ini. Hingga saat ini, terdapat sekitar 12 ribu SDM pada sektor syariah.

Ke depannya diharapkan agar pertumbuhan sektor perbankan syariah dibiarkan tumbuh secara normal dengan lebih gencar mensosialisasikan pada masyarakat terkait produk dan kegunaan produk syariah. “Biarkan tumbuh secara normal dan masyarakat memahami keuntungan memakai ekonomi syariah,”

Published in: on May 6, 2009 at 4:12 am  Leave a Comment  
Tags: , , ,

The URI to TrackBack this entry is: https://mirasyam.wordpress.com/2009/05/06/sekilas-tentang-perbankan-syariah-2/trackback/

RSS feed for comments on this post.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: