Sekilas Tentang Perbankan Syariah (1)

Indonesia merupakan salah satu negara muslim terbesar. Seharusnya sangat besar peluang dalam mengembangkan perbankan yang berbasih syariah. Namun kenyataan dilapangan Indonesia belum bisa mengembangkan perbankan ekonomi berbasis syariah.

Sejak Bank Muamalat beroperasi di Indonesia sejak tahun 1992 timbul beberapa perdebatan. Situasi pada saat itu tidak memungkinkan untuk menggunakan kata Islam. Ada semacam perasaan kurang nyaman terhadap penggunaan kata Islam. Kata “syariah” dinilai lebih netral dan bisa diterima oleh semua pihak. Padahal pengertian syariah itu sendiri bermakna hukum, misalnya Syariah Islam.

Menurut Mustafa E. Nasution – Wakil Direktur I PPs UI dalam buku Ekonomi Syariah Dalam Sorotan munculnya pengertian Ekonomi Syariah, karena di Indonesia bukan menggunakan Bank Islam tapi Bank Syariah. Seharusnya adalah istilah ekonomi islam (Islamic Economy) yang merupakan istilah di dunia Internasioanal. Jadi, konotasi ekonomi islam tidak semata-mata bank tanpa bunga. Tidak betul juga Islam hanya berkonotasi semata-mata bank tanpa bunga. Ekonomi itu meliputi seluruh aspek kegiatan ekonomi, dan bank hanya satu atau sebagian saja dari kegiatan Ekonomi Islam.

Hal-hal yang melatarbelakangi timbulnya kekeliruan persepsi ini adalah karena kondisi polotik Indonesia ketika Bank Syariah akan digulirkan, tidak memberi peluang penggunaaan kata “Islam”. Budaya kita tidak mendukung penggunaan kata ini. Masyarakat Indonesia mayoritas Islam namun masih menggunakan kata Syariah.

Saat ini asset perbankan syariah sampai Feb 2009 baru sekitar Rp 50 triliun. Jumlahnya hanya setara dengan 2% total asset perbankan konvensional sebesar Rp. 2.500 triliun. Padahal menurut API (Arsitektur Perbankan Indonesia) pada tahun 2003, Bank Indonesia sangat optimis asset perbankan syariah sampai 5% dari total asset perbankan konvensional.

Ada beberapa alasan kenapa bank islami belum berkembang di Indonesia.

  1. Kurangnya pengetahuan masyarakat tentang bank syariah. Masih banyak orang yang tidak tahu apa- apa saja produk bank syariah.
  2. Jaringan, fasilitas, dan layanan perbankan syariah masih kalah kelas ketimbang bank konvenisonal yang sudah lama berakar di Indonesia.
  3. Aturan pajak berganda pada transaksi murabahah membuat daya saing bank syariah berkurang. Diharapkan ke depannya pemerintah serta Ditjen Pajak segera merevisi aturan tersebut sehingga para investor yakin merealisasikan investasinya di perbankan syariah.

Grand Strategy Pengembangan Pasar Perbankan Syariah
Menurut Bank IndonesiaSebagai langkah konkrit upaya pengembangan perbankan syariah di Indonesia, maka Bank Indonesia telah merumuskan sebuah Grand Strategi Pengembangan Pasar Perbankan Syariah, sebagai strategi komprehensif pengembangan pasar yg meliputi aspek-aspek strategis, yaitu: Penetapan visi 2010 sebagai industri perbankan syariah terkemuka di ASEAN, pembentukan citra baru perbankan syariah nasional yang bersifat inklusif dan universal, pemetaan pasar secara lebih akurat, pengembangan produk yang lebih beragam, peningkatan layanan, serta strategi komunikasi baru yang memposisikan perbankan syariah lebih dari sekedar bank.

Selanjutnya berbagai program konkrit telah dan akan dilakukan sebagai tahap implementasi dari grand strategy pengembangan pasar keuangan perbankan syariah, antara lain adalah sebagai berikut:

Pertama, menerapkan visi baru pengembangan perbankan syariah pada fase I tahun 2008 membangun pemahaman perbankan syariah sebagai Beyond Banking, dengan pencapaian target asset sebesar Rp.50 triliun dan pertumbuhan industri sebesar 40%, fase II tahun 2009 menjadikan perbankan syariah Indonesia sebagai perbankan syariah paling atraktif di ASEAN, dengan pencapaian target asset sebesar Rp.87 triliun dan pertumbuhan industri sebesar 75%. Fase III  tahun 2010 menjadikan perbankan syariah Indonesia sebagai perbankan syariah terkemuka di ASEAN, dengan pencapaian target asset sebesar Rp.124 triliun dan pertumbuhan industri sebesar 81%.

Kedua, program pencitraan baru perbankan syariah yang meliputi aspek positioning, differentiation, dan branding. Positioning baru bank syariah sebagai perbankan yang saling menguntungkan kedua belah pihak, aspek diferensiasi dengan keunggulan kompetitif dengan produk dan skema yang beragam, transparans, kompeten dalam keuangan dan beretika, teknologi informasi yang selalu up-date dan user friendly, serta adanya ahli investasi keuangan syariah yang memadai. Sedangkan pada aspek branding adalah “bank syariah lebih dari sekedar bank atau beyond banking”.

Ketiga, program pemetaan baru secara lebih akurat terhadap potensi pasar perbankan syariah yang secara umum mengarahkan pelayanan jasa bank syariah sebagai layanan universal atau bank bagi semua lapisan masyarakat dan semua segmen sesuai dengan strategi masing-masing bank syariah.

Keempat, program pengembangan produk yang diarahkan kepada variasi produk yang beragam yang didukung oleh keunikan value yang ditawarkan (saling menguntungkan) dan  dukungan jaringan kantor yang luas dan penggunaan standar nama produk yang mudah dipahami.

Kelima, program peningkatan kualitas layanan yang didukung oleh SDM yang kompeten dan penyediaan teknologi informasi yang mampu memenuhi kebutuhan dan kepuasan nasabah serta mampu mengkomunikasikan produk dan jasa bank syariah kepada nasabah secara benar dan jelas, dengan tetap memenuhi prinsip syariah; dan

Keenam, program sosialisasi dan edukasi masyarakat secara lebih luas dan efisien melalui berbagai sarana komunikasi langsung, maupun tidak langsung (media cetak, elektronik, online/web-site), yang bertujuan untuk memberikan pemahaman tentang kemanfaatan produk serta jasa perbankan syariah yang dapat dimanfaatkan oleh masyarakat.

Diambil dari berbagai sumber (bi.go.id, Kontan, dll)

Published in: on May 4, 2009 at 4:50 am  Comments (4)  
Tags: , ,

The URI to TrackBack this entry is: https://mirasyam.wordpress.com/2009/05/04/sekilas-tentang-perbankan-syariah-1/trackback/

RSS feed for comments on this post.

4 CommentsLeave a comment

  1. Mir…sumber tulisannya gak ditulis?

    nice post🙂

  2. Iya nih Mbak Mira … referensinya gak ditulis.

    Btw, saya masih nggak ngeh nih dengan Bank Syariah (walaupun saya nabungnnya di Bank Syariah), apa cuma akad nya saja yang membedakan dengan Bang Konvensional. Secara juga pernah mau minjam di salah satu Bank Syariah, prosesnya juga njelimet dan bikin sakit gigi. Kayanya gak ada beda deh dengan Bank Konvensional. Kecuali Mbak-Mbak tellernya berjilbab … he,…he

  3. Untuk penjelasan lebih lanjut silahkan abang lihat posting berikutnya. Semoga bisa memberikan jawaban yaa…🙂

    • Okeh, kita baca lagi

      *lagi semangat belajar ekonomi mikro*


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: