“Dinda”

Oleh : Miranty Syamsirwan

Hari ini aku duduk termenung sambil memikirkan apa yang terjadi tadi malam. Malam itu merupakan malam yang terakhir aku harus bertemu dengan seseorang yang selama ini bersamaku. Seseorang yang selalu mengisi hari-hariku penuh dengan canda dan tawa. Seseorang yang selama ini mengajarkan aku banyak hal. Tapi canda dan tawa itu tidak ada lagi dan senyum itu tidak aku dapatkan lagi selama 2 tahun lamanya.

Seseorang itu bernama Akmal. Dia mahasiswa Universitas Gadjah Mada jurusan Teknik Elektro. Dia termasuk mahasiswa paling pintar di kampus untuk angkatannya. Aku mengenal Mas Akmal dua tahun yang lalu di acara “sekatenan”. Dia merupakan laki-laki yang sederhana, sangat bersahaja serta pintar. Teman-teman seangkatannya mengenal dia sebagai mahasiswa kutu buku, karena hampir tiap hari tidak melewatkan waktu untuk selalu membaca buku. Setelah jam kuliah berakhir, tempat yang sering dia kunjungi perpustakaan dan ruang internet yang letaknya di sebelah ruangan perpustakaan

Singkat cerita, tidak berapa lama setelah kami berkenalan di sebuah acara “sekatenan”. Mas Akmal selalu menghubungi aku lewat telpon, sms atau sengaja datang ke kelasku dengan alasan meminjam buku diktat. Hal itu sangat sering dia lakukan hanya untuk bertemu denganku. Awalnya aku gak curiga dengan alasan dan sikapnya padaku. Tapi lama-lama aku mulai curiga kalo dia suka denganku. Itu juga aku ketahui dari teman dekatku yang juga temannya Mas Akmal, Mita.

***

Saat aku sibuk membereskan kertas-kertas yang berserakan di mejaku. Tiba-tiba punggungku di pukul dari belakang.

“Hai Dinda, gimana kabar loe hari ini, tumben Mas Akmal gak bersamamu, kemana dia,”Tanya temanku Mita.

“Wah aku gak tau Mit, tadi sich dia bilang kalo dia pergi ke Kantor Pusat UGM dan mungkin hari ini gak bisa nemenin aku belanja di Beringharjo,” jawabku sambil memegang pundakku yang sakit karena dipukul.

“Ngapain sich dia kesana Din,” Tanya Mita balik.

“Yah aku gak tau Mit, katanya sich lihat pengumuman, paling juga Mas Akmal lagi lihat apa ada lowongan untuk minggu ini. Karena akhir-akhir ini, Mas Akmal semangat banget pengen cepat dapat kerja. Padahal kamu tau sendiri khan Mit, baru seminggu yang lalu dia diwisuda,” jawabku.

“Mmmmm, aku jadi curiga dech,”celetuk Mita.

“Curiga apaan Mit,” tanyaku.

“Masa kamu gak tau sich, kalo hari ini khan pengumuman siapa yang mendapatkan beasiswa untuk melanjutkan S2 di Belanda. Mas Akmal termasuk salah satu mahasiswa yang mendapat kesempatan untuk melanjutkan S2 di Belanda. Mas Akmal khan termasuk mahasiswa paling pintar di kampus kita.” Jawab Mita.

“Oh ya,” jawabku. “Tapi dia gak pernah cerita ke Dinda kalo Mas Akmal mendapatkan kesempatan kuliah di Belanda. Kamu tau darimana sich.”

“Aku tau dari papa, Din. Papa pernah cerita, kalo Mas Akmal mendapat kesempatan untuk kuliah di Belanda. Mas Akmal mendapat kesempatan kuliah dari pemerintah Belanda untuk pertukaran pelajar Din.” Jawab Mita.

“Haa, masa sich, tapi kok Mas Akmal gak pernah cerita ke Dinda ya,” jawabku bingung

“Mungkin karena Mas Akmal gak mau kamu sedih, makanya dia gak mau cerita ke kamu Din, jawab Mita.

“Tapi setidaknya Mas Akmal ngasih tau Dinda donk, masa pake rahasia segala ke Dinda. Setau Dinda Mas Akmal selalu terbuka sama Dinda, Mit,” jawabku.

“Yah udah gini aja untuk memastikan seperti apa beritanya, mending kamu tanya langsung sama Mas Akmal ntar malam,” jawab Mita. “Ya udah aku pulang dulu ya Din, udah siang aku mau sholat dzuhur dulu di Mesjid Kampus, kamu udah sholat atau belum.”

“Dinda belum sholat Mit. Ya udah kita sholat dulu ya, tapi Dinda pinjam mukena Mita ya, soalnya mukena Dinda lagi dicuci, jawab Mita sambil memasukkan berkas-berkas kuliahan yang baru di foto kopi ke dalam tas.

***


Tepat jam 19.00 Mas Akmal datang ke kosan Dinda. Kebetulan hari ini Mas Akmal datang menggunakan sepeda motor milik sepupunya. Tapi hari ini aku sangat heran dengan penampilan Mas Akmal yang lain dari biasanya. Mas Akmal sangat rapi sekali dengan baju kemeja serta celana jins hitam, menggunakan parfum yang aku belikan seminggu yang lalu serta rambutnya yang rapi. Tapi, yang membuatku heran dan bertanya-tanya, kok hari ini Mas Akmal tidak menggunakan kacamata minus 3 miliknya. Mas Akmal tersenyum padaku. Sepertinya Mas Akmal mengerti dengan wajahku yang penuh dengan kebingungan. Dan pertanyaan

“Silahkan naik motor sayangku, ntar Mas Akmal cerita dech ke Dinda kenapa hari ini Mas Akmal bahagia dan berbeda. Ntar Dinda tau sendiri dan mas yakin Dinda pasti senang mendengarnya,” jawab Mas Akmal.

Lalu motor pun dinyalakan berjalan menuju Jl. Kaliurang yang disepanjang jalan banyak kita jumpai café-café keluarga atau pun cafe anak muda yang pas banget buat hang out atau sekedar melepas lelah sambil memandang pemandangan lampu yang gemerlap. Lalu motor kami pun berhenti di café yang menurutku sangat elit di kota Jogja. Karena rata-rata yang datang ke cafe itu adalah orang-orang bermobil bagus.

“Lho, mas kenapa berhenti di café ini, kenapa gak ditempat biasa aja. Sayang khan uangnya, mending ditabung aja buat pulang kampung besok,” jawabku.

“Gpp Dinda, tenang aja, Dinda gak usah khawatir, Mas Akmal ada uang kok,” jawab Mas Akmal.

Lalu Mas Akmal mengajakku masuk dan menghampiri para pelayan agar dicarikan tempat buat kami. Alhamdulillah kami mendapatkan tempat duduk lesehan seperti gazebo. Aku seneng sekali karena suasana seperti berada di kampungku. Dan aku melihat di depan tempat kami duduk, dengan jelas bisa melihat pemandangan sangat indah sekali dengan pepohonan yang hijau, bunga yang indah serta dimanjakan dengan suara air.

“Sayang, Dinda seneng gak dengan tempat ini. Sengaja mas pesan 2 hari yang lalu lho, karena Mas Akmal tau banget kalo Dinda seneng dengan suasana seperti ini,”jawab Mas Akmal.

Iya mas, tempatnya bagus banget, Dinda ingat di kampung mas,”jawab Dinda. Mas Akmal cuma tersenyum sambil memegang kepala Dinda.

“Tapi Dinda seneng khan…?”jawab Mas Akmal. “Iya mas, Dinda seneng banget, karena ini café yang paling bagus yang Dinda temuin.”jawab Dinda manja.

“Tapi ada apa sich mas, kok bawa Dinda kesini, terus Mas Akmal kok beda banget hari ini Dinda lihat. Kacamata mas Akmal mana…?”tanya Dinda.

“Mas Akmal tersenyum lalu dia memegang tangan Dinda. “Gini Dinda sayang, hari ini Mas Akmal bahagia banget plus sedih.”

“Maksud mas Akmal bahagia plus sedih apaan yaa,”tanyaku dengan wajah yang penuh dengan kebingungan.

“Gini sayang, Mas Akmal mendapat kesempatan kuliah S2 dari pemerintah Belanda. Mas Akmal termasuk 10 besar dari seluruh Indonesia yang mendapat kesempatan untuk kuliah di Belanda. Dan Mas Akmal yakin, Dinda pasti seneng dengarnya khan,”jawab Mas Akmal penuh percaya diri.

“Seneng maksudnya apa Mas,” tanyaku penuh kebingungan.

“Lho, bukannya dulu Dinda pernah bilang ke Mas Akmal kalo Dinda pengen banget tinggal di Belanda, pengen lihat bunga tulip, kincir angin. Masa Dinda lupa kalo Dinda pernah ceritakan itu ke Mas Akmal,”tanya Mas Akmal.

“Lho, mas kemarin itu khan cuma khayalan Dinda doank pengen tinggal di Belanda. Lagipula Dinda juga gak yakin kalo Dinda bakal bisa ke Belanda apalagi tinggal di sana.”jawab Dinda.

“Sayang, khayalan Dinda bakal terwujud. Sekarang Mas Akmal mendapat kesempatan untuk melanjutkan kuliah disana dan insya Allah, kalo Allah mengizinkan Dinda juga bakal Mas Akmal bawa kesana jalan-jalan,” jawab Mas Akmal.

“Jalan-jalan,”jawab Dinda bingung. “Duit dari mana mas..??

“Insya allah, mama papa Mas Akmal mau nganterin Mas Akmal ke Belanda. Nah Dinda ikut karena Mas Akmal udah bilang ke papa mama ngajak Dinda. Alhamdulillah mama papa setuju dengan keinginan Mas Akmal, sayang. Jadi Dinda bisa tinggal beberapa hari di Belanda, lihat bunga tulip, serta kincir angin disana. Selain itu, Dinda bisa jalan-jalan disana. Kebetulan papa mama juga pengen kesana sambil jalan-jalan bawa Fatimah, adik Mas Akmal. Dinda gak boleh nolak karena ini permintaan Mas Akmal,” jawab Mas Akmal ambil memegang kepala Dinda.

“Terus, Mas Akmal ninggalin Dinda sendirian di Jogja, sementara Mas Akmal di Belanda. Kok Mas Akmal tega sich, Dinda khan belum kelar kuliah. Terus ntar siapa yang bantuin Dinda cari bahan skripsi, temenin belanja, temenin belajar, temenin makan,” jawab Dinda sambil mengelurkan air mata.”

“Dinda, Mas Akmal di Belanda khan belajar, jadi Dinda harus ngerti dong sayang. Toh Mas Akmal belajar khan buat masa depan kita. Ngapain sich Dinda sedih kayak anak kecil, senyum dong sayang. Toh Mas Akmal di Belanda gak lama. Lagipula Dinda khan tinggal tunggu sidang. Paling 1 atau 2 bulan lagi skripsi Dinda kelar dan diwisuda.” Jawab Mas Akmal.

“Kalo Dinda di wisuda emang Mas Akmal datang,”jawab Dinda menantang.

Mas Akmal cuma bisa tersenyum sambil memegang tangan Dinda.

“Sayang, Mas Akmal minta maaf. Mas Akmal gak mungkin bisa datang ke acara wisuda Dinda karena Mas Akmal harus kuliah lagipula Mas Akmal cuma dikasih kesempatan liburan 2 kali, itu juga pasti mahal banget ongkosnya. Sabar ya sayang, gak lama kok cuma 2 tahun Mas Akmal disana. Setelah itu Mas Akmal pulang ke Indonesia dan Dinda langsung Mas Akmal lamar. Sembari menunggu Mas Akmal kuliah S2 disana Dinda cari kerja dulu. Habis itu terserah Dinda masih mau melanjutkan kerja setelah menikah, keputusan Mas Akmal serahkan ke Dinda, karena Mas Akmal yakin Dinda pasti tau yang terbaik buat masa depan kita, jawab Mas Akmal panjang lebar.

Lalu mereka pun tersenyum bahagia. Dinda bisa merasakan betapa bahagia Mas Akmal karena mendapat kesempatan kuliah di Belanda. Jujur sich dalam hati Dinda juga sangat bahagia melihat Mas Akmal bahagia. Namun ada terbersit di hati Dinda apakah kebahagian itu bisa ia rasakan tanpa Mas Akmal disisinya lagi. Karena selama ini, Dinda sangat bergantung dengan Mas Akmal. Semoga saja kebahagiaan itu tetap ada walau Mas Akmal gak disisinya selama 2 tahun. Dan semoga Dinda bisa lalui hari-hari tanpa Mas Akmal disisinya dengan mengambil keputusan kuliah S2 lagi di UGM atau mengambil S2 di Belanda. Ah, itu cuma khayalan Dinda, karena gak mungkin banget Dinda bisa seperti Mas Akmal mendapat kesempatan untuk kuliah di luar negri.

***

Published in: on January 13, 2009 at 2:45 pm  Comments (1)  
Tags:

The URI to TrackBack this entry is: https://mirasyam.wordpress.com/2009/01/13/dinda/trackback/

RSS feed for comments on this post.

One CommentLeave a comment

  1. ceritanya mengharukan sekali smpai – sampai aku ikutan sedih jadinya….
    ..
    ….??
    salam persahabatan….??


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: