Seseorang di Papua

Kemarin saya dapat telp dari Papua. Seseorang yang sudah saya anggap adik saya namanya Sonya. Nama yang gak asing di telingaku n dulu sempat dekat denganku. Alhamdulillah sekarang saya mendapat berita darinya walau beberapa bulan sebelum dia menghubungi saya, saya sempat menghubunginya tapi no tlpnya gak aktif. Saat itu saya berpikir kalo dia pasti sudah ditempat lain karena ada tugas ato tanggung jawab yang harus dia jalankan yang berhubungan dengan kuliahnya. Dia sekarang seorang dokter gigi lho.

Dia seorang mahasiswa Kedokteran Gigi Univ. Trisakti. Dia adik temanku. Saya salut dan kagum dengan jiwanya yang sangat bersahaja dan apa adanya, tapi cerdas walau kondisi yang kurang menguntungkan menghampirinya. Sempat kalo gak salah 1 tahun yang lalu masalah besar melanda keluarga besarnya. Dimana ibunya sangat terpukul dengan cobaan yang menimpa kedua orang putra putrinya.

Anak peremuannya harus rela menerima cobaan kalo dia harus mengulang lagi 1 semester karena dia harus kehilangan penelitiannya yang merupakan bahan untuk skripsinya sewaktu dia lagi makan di restoran junk food di mall jakarta. Dia terpaksa mengulang 1 semester dari keadaan tsb karena dosennya gak percaya dengan keadaan yang menimpanya. Saat saya menghubunginya sekitar April 08, dia dan ibunya sangat bahagia sekali mendengar suara saya. Bahkan saya dengar suara ibunya seperti menahan air mata mendengar kalo yang menghubungi beliau adalah saya anaknya (walau bukan anak kandung tapi beliau menganggap saya seperti anaknya, beliau yang mengajarkan saya banyak hal, tentang resep masakan, pengalaman hidup beliau, dll). Namun setelah itu saya gak pernah menghubungi beliau lagi. Ada rasa rindu dan kangen yang menghampiri dan saya disibukkan dengan kerjaan di Duri. Sementara beliau tinggal di Jakarta.

Selang beberapa bulan berlalu, tepatnya kemarin Sonya menghubungi saya saat saya sedang kerja di kantor sendirian. Ada rasa bahagia yang menghampiri hati saya. Seseorang yang dulu dekat dengan saya saat dia liburan ke jogja, saya yang sempat menjadi temannya jalan2 kllg jogja bahkan solo dengan teman2nya. Adik yang sangat sederhana. Saya banyak belajar darinya tentang hidup. Orang yang santai, apa adanya, ceplas ceplos kalo ngomong, cuek pisan dalam penampilan serta sikap, sabar walau sering mendapat perlakuan yang gak adil dari masnya, serta ibunya yang condong lebih sayang ke masnya tapi dia tetap sabar. Tapi sekarang keadaan berubah. Dia sudah mendapat gelar Drg Sonya Renny. Wah saya sangat bahagia sekali adik saya sudah menjadi dokter gigi. Mendengar suara serta kabarnya saja saya sudah sangat bahagia sekali. Ingin rasanya ketemu Sonya dan keluarganya dan tetap menjaga  hubungan silaturahmi walau kami sudah berjauhan.

Saya punya prinsip hubungan silaturahmi akan tetap dipertahankan sampai kapanpun. Ingin rasanya menghubungi “mama” (seorang ibu yang sudah saya anggap ibu saya sendiri). Tapi saya belum menghubunginya karena saya takut seperti kejadian yang lalu, ntar beliau sedih n menangis karena saya tau kangen yang memuncak yang ada dalam hatinya untuk saya). Seorang ibu yang dulunya menaruh harapan besar dengan saya tapi sekarang cuma tinggal kenangan.

Tante saya akan tetap menganggap tante seperti mama saya sendiri. Tante sudah seperti mama saya sendiri. Apapun keadaan sekarang ini sudah kehendak Allah. Namun yang pasti saya tidak akan pernah memutuskan hubungan silaturahmi dengan mama, papa dan Sonya. Karena kalian sudah saya anggap seperti keluarga saya sendiri dan saya banyak belajar dari kalian. Saya sangat bahagia mengenal kalian.  Saya selalu berdoa sama Allah agar kalian selalu dilindungi Allah, diberi kemudahan serta diberi kesehatan yang baik. Amiin…”

Pernikahan itu sangat menghancurkan hati dan perasaannya. Hal itu tampak dari sikap mama dan papa yang tidak menghadiri pernikahan anak kesayangannya. Tapi itulah cobaan yang harus mama hadapi. Kekecewaan yang sangat besar yang harus dia hadapi melihat anak kesayangannya melawan serta berkata kasar dengannya dan berniat menikah dengan orang yang baru dia kenal. Isi hatinya itu dia ucapkan pada saya beberapa bulan sebelum anaknya menikah dengan wanita yang dia kenal sangat instan. Tapi entah mengapa kata2 beliau yang dulu beliau ucapkan kepada saya membuat saya berpikir. Tapi sudahlah itu sudah berlalu dan saya berdoa semoga teman saya itu bahagia dengan pernikahannya dan selalu dilindungi Allah. Tapi itulah hidup yang harus dia jalani. Anaknya yang pertama tinggal dan kerja di surabaya, anak keduanya dinas selama 6 bulan di ujungnya papua, maret 09 baru kembali ke jakarta. Sekarang beliau cuma tinggal berdua di rumah, papa yang juga pensiunan salah satu perusahaan pelayaran milik Indonesia.

Published in: on January 4, 2009 at 4:27 pm  Comments (2)  
Tags:

The URI to TrackBack this entry is: https://mirasyam.wordpress.com/2009/01/04/seseorang-di-papua/trackback/

RSS feed for comments on this post.

2 CommentsLeave a comment

  1. ini cerita orang lain ya?

  2. Iya mira menceritakan orang lain di blog mira mas…
    Emang knp mas…?


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: