Dia telah pergi

From : MRS

Hari ini aku bertemu dengan dia lagi. Sosok laki-laki yang sudah lama aku cari dan sangat aku kenal. Laki-laki yang dulu menemani aku selama aku belajar dan menuntut ilmu di SMP Negri dulu, tepatnya di kota Palembang Sekolah yang sangat terkenal di kotaku. Sekolah yang sangat disiplin sekali. Di sana aku kenal dengan Rahmat. Laki-laki yang sangat sederhana, paling baik, paling pintar di kelasku. Di SMP itu aku hanya mengenal Rahmat sebagai temanku. Rahmatlah yang membantu dan mengajarkan aku banyak hal tentang pelajaran yang tidak aku ketahui di sekolah.

Namaku Aisyah. Aku anak perempuan dari pasangan suami istri bernana Ridwan Subroto dan Ajeng Kumala Sari. Ayah ibuku seorang pengusaha sukses di kota Jakarta. Aku tinggal di Palembang bersama dengan kaeak dan nenekku. Aku gadis yang pendiam. Aku tidak bisa bergaul dengan siapapun di sekolah tempatku belajar. Aku hanya memiliki satu orang sahabat yang sangat mengerti dan memahmi aku. Nama laki-laki itu Rahmat.

Selama aku sekolah di Palembang. Rahmatlah yang mengajarkan aku banyak hal tentang budaya Palembang, pelajaran di sekolah, menemaniku kursus piano, kursus nari, dan kursus bahasa inggris, belanja di pasar. Aku sangat bahagia bisa berkenalan dan bersahabat dengan Rahmat. Rahmat sangat menyayangi aku. Dia selalu berusaha gimana aku bisa tersenyum. Sampai-sampai teman-temanku berkata bahwa aku pacaran dengan Rahmat. Padahal tidak. Rahmat hanya sahabatku.

Suatu kali aku mendengar berita buruk tentang keluarganya. Kakek dan nenek Rahmat meninggal dunia. Rahmat sejak kecil hanya diasuh oleh kakek dan neneknya. Ayah ibunya Rahmat seorang pengajar sukses. Ayah ibunya wafat saat berangkat ke Amerika untuk melanjutkan kuliah S3 ayahnya. Sementara saat itu dengan terpaksa Rahmat tidak bisa ikut dengan ayah ibunya pergi ke Amerika. Rahmat selamat dari kecelakaan pesawat yang menelan banyak korban. Diantara korban itu ada ayah dan ibunya Sejak ayah ibunya wafat otomatis Rahmat diasuh kakek dan neneknya.

Dengan terpaksa Rahmat harus pindah sekolah. Saat itulah aku berpisah dengan Rahmat. Dia harus pergi dari Palembang mengikuti paman dan bibinya yang kuliah di Australia. Paman dan bibinya sudah lama tidak mempunyai anak. Sejak kakek dan neneknya meninggal Rahmat diasuh pamannya yang merupakan adik dari ibunya.

Hari ini aku melihat Rahmat berbeda sekali. Dia sangat tampan dengan baju kerah berwarna biru, dasi, serta setelan jas berwarna hitam. Sangat selaras sekali dengan Rahmat. Dia sangat tampan sekali. Aku sangat kagum padanya. Lalu aku menghamprinya berusaha untuk menyapanya. “Assalamualaikum kak Rahmat. Masih kenal aku Aisyah, sahabatmu dulu waktu kita SMP di Palembang.” jawabku. Aisyah adikku, gimana kabarmu sekarang dek! Aku sudah lama mencarimu tapi aku tidak pernah lagi mendengar tentangmu,” jawab Rahmat bersemangat. “Yah kak! Sejak kamu pindah dari sekolah kita dulu, aku juga ikut pindah ke Jakarta mengikuti ayah dan ibuku. Sejak kakak pergi dari Palembang, aku sangat kesepian sekali. Kakak khan tau kalau di Palembang, aku tidak mempunyai sahabat serta teman. Hanya kak Rahmat yang mengisi hari-hariku selama sekolah disana dan tinggal disana.”

“Ohhhh, yaaa…? Jadi kamu pindah juga dek dari sekolah kita itu. Tapi kenapa kamu tidak memberi kabar dimana kamu tinggal dan sekolah” tanya kak Rahmat sambil menatap mataku. “Aku berusaha mencarimu kak! Tapi gak ada satupun yang tau alamatmu di Australia kak” jawabku spontan. “Ngomong-ngomong kakak rapi banget hari ini, Kakak kerja dan tinggal dimana sekarang…?” tanyaku. “Kamu belum tau ya dek, saat ini kakak harus berangkat ke Singapore menemui istri kakak yang akan di wisuda minggu depan.

“Istri!!” jawabku dalam hati. Aku hanya terdiam membisu. Sudah sekian lama aku mencari dimana kak Rahmat berada, tapi aku tidak mendapatkan hasil. Saat aku telah menemukannya, ternyata dia sudah memiliki istri dengan satu orang anak perempuan. Aku sangat sedih sekali. Pencarian cinta sejatiku selama hampir 10 tahun kandas sudah. Aku sudah tidak bisa memiliki dia lagi. Dia sudah menikah dan saat aku bertemu dia tadi sore. Dia memanggil aku dengan sebutan dek. Jadi selama ini aku salah menilai tentang perasaannya padaku. Dia hanya menganggap aku hanya sebagai seorang adik. “Maafkan aku kak telah mencintaimu dan menyayangimu” jawabku mbatin. “Aku berdoa semoga kakak bahagia dengan wanita yang telah kakak nikahi. Biarlah cintaku padamu hanya menjadi kenangan terindah yang aku miliki.”

About these ads
Published in: on June 1, 2009 at 7:59 am  Comments (1)  
Tags:

The URI to TrackBack this entry is: http://mirasyam.wordpress.com/2009/06/01/dia-telah-pergi/trackback/

RSS feed for comments on this post.

One CommentLeave a comment

  1. hiks :(

    Ada tissuee gak ?


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: